Kenapa Harus Takut dengan MLM?

Kenapa Harus Takut dengan MLM?

Kenapa harus takut dengan MLM

image : istockphoto

Sebelum mulai membaca, tulisan ini sekedar opini pribadi saya aja sebagai konsultan salah satu MLM – Direct Selling System perusahaan kosmetik di Indonesia. Tulisan ini dari kumpulan pengalaman saya terhadap banyaknya penolakan para perempuan, yang selama ini sering menggangap MLM itu hanya jualan ‘tok’.

A : “Hallo mbak, maaf mengganggu sebentar. Mbak suka gunain produk ini?”

B : “Iya suka pakai mbak, kenapa ya? Biasanya setiap bulan saya beli di teman saya”

A : “Oh ya.. Wah berarti udah tau ya rasanya gunain produk ini. Daftar aja yuk mbak, jadi anggotanya. Supaya dapet diskon setiap belanja”

B : “mmm MLM ya? Gak deh, saya gak bakat jualan mbak. Maaf ya”

Percakapan diatas sudah lebih dari 10 kali saya rasakan. Sebelum menjelaskan lebih rinci lagi apa maksud dari ajakan saya, biasanya si B sudah langsung close access saya untuk melanjutkan obrolan 😀

Sebenernya andai aja mbaknya mau dengerin penjelasan saya lebih lanjut, besar kemungkinan mbaknya tertarik. Karena berdasarkan percakapan, suka membeli produknya setiap bulan.

Kenapa? Karena dengan menjadi anggota, keuntungan awalnya itu diskon setiap belanja produknya. Apalagi untuk perempuan yang setiap bulan belanja produknya. Sama halnya seperti, saat kita ditawarkan member card coffee shop. Sama-sama ada keuntungan dan diskon setiap promo.

Tidak semua anggota MLM wajib jualan

Ada perbedaan antara orang yang bergabung suatu MLM untuk mendapatkan tambahan penghasilan, dan bergabung untuk sekedar belanja untuk kepentingan pribadi lebih hemat. Jadi, tidak semua MLM mewajibkan anggotanya untuk berjualan.

Perbedaannya dimana? Kalau bergabung untuk mendapatkan penghasilan, jelas dengan berjualan akan langsung mendapatkan laba bahkan omset komisi penjualan dalam satu jaringan group. Sementara menjadi member suatu MLM dengan tujuan untuk berbelanja lebih hemat, tidak perlu berjualan.

Tidak semua anggota dikejar target penjualan

Satu lagi yang sering kali jadi hal menakutkan kalau sudah mendengar kata MLM. Kalimat “ditargetkan ya?”. Nah hal ini kembali kepada tujuan awal saat memutuskan menjadi anggota suatu MLM. Karena sebenarnya You are The Boss for yourself.

Bagi yang ingin mencari penghasilan di dunia MLM, pasti akan tau seberapa besar rupiah yang mau dihasilkan saat mengerjakan bisnis MLM. Begitu paham nominal yang diinginkan, pastinya juga paham berapa omset yang dibutuhkan. Jadi bukan dari sponsor/upline target omsetnya. Tapi lebih ke diri sendiri. Mau seberapa banyak nominal rupiah yang diinginkan.

Sama halnya ketika kita buka usaha toko, saat kita menginginkan laba 1 juta dalam sebulan, kita harus menjual berapa jumlah produk dalam toko. Jadi kesimpulan dari tulisan saya ini. Tidak semua anggota MLM harus jualan & punya target.

Semoga berkenan & bermanfaat. Saya terbuka untuk menerima saran & kritik di kolom komen.

~Chatarina Avi

Advertisements